Postingan

Malam lailatul qadr

Gambar
SEPULUH HARI TERAKHIR DI BULAN RAMADHAN  Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du : Sesungguhnya merupakan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sepuluh hari  terakhir bulan ramadan adalah bersungguh sungguh dalam beribadah tidak seperti hari hari sebelumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadist Ummul Mukminin  A'isyah radhiyallahu anhuma berkata, كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر من رمضان ما لا يجتهد في غيره  " Dahulu Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan ramadan tidak seperti pada hari-hari sebelum nya ". Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka dari Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anhuma berkata, أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان –أحيا الليل و جد و شد مئزره وأيقظ أهله .  “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir...

yg aku takuti Ketika d hisab

Gambar
✍️ *YANG PALING AKU TAKUTI KETIKA DIHISAB* . NASIHAT ULAMA : AMALKAN ILMU  . Para ulama selalu menasihatkan kepada kita, “Amalkanlah Ilmu!” Ilmu bukan hanya sekedar tambah wacana, untuk berbangga diri, atau supaya disebut pintar debat. Siapa yang tidak mengamalkan ilmu, maka sia-sialah ilmunya bagai pohon yang tidak berbuah. . Malik bin Dinar berkata, . من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا . “Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan (kesombongan)” (Hilyatul Auliya’, 2: 378). . Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar berkata, . إذا تعلم العبد العلم ليعمل به كسره علمه وإذا تعلم العلم لغير العمل به زاده فخرا . “Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untu...

jangan menyingkat SWT, SAW, RA

Gambar
Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) Soal: Bolehkah menulis huruf SAW yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya? Jawab: Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap -shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat shalawat ini. Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf shad atau penyingkatan Salam dan Shalawat (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis. Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Fatwa Asy-Syaikh Washiyullah 'Abbas hafizhahullah (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura, Makkah) Soal: Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya de...

jangan pernah menunda shalat

Gambar
Salah satu yg harus kita ketahui adalah tentang shalat yg sering dilalaikan. Allah Ta'ala berfirman: ‎فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ "Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya". (QS. Al-Ma’un: 4-5) Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah: 1. Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir. 2. Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3. Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat. Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi...

apa Itu wahabi?

Gambar
Soal: “Siapakah wahabi?” Jawab: Wahabi adalah kata yang dimunculkan oleh para penentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Padahal Syaikh rahimahullah berdakwah untuk memurnikan tauhid dari berbagai macam kesyirikan. Beliau ingin menghapus berbagai macam cara beragama di luar yang dituntunkan oleh  Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksud dari pemunculan nama ini sebenarnya adalah untuk menjauhkan dan menghalangi manusia dari dakwah beliau. Namun usaha semacam ini tidaklah membahayakan dakwah beliau. Bahkan dakwah beliau semakin tersebar di berbagai penjuru dunia dan semakin dicintai. Diantara mereka yang diberi taufik oleh Allah untuk mengenal dakwah beliau, mereka melakukan penelitian lebih lanjut tentang hakikat dakwah beliau, mereka pun membelanya, karena beliau selalu bersandar pada dalil Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih pada setiap apa yang beliau sampaikan. Sehingga mereka semakin berpegang teguh dengan dakwahnya, ...

niat itu letak nya di hati, bukan di ucapkan seperti lafaz "usholli"

Gambar
Bismillah... ✍Niat Itu Letaknya Dalam Hati, Bukan diucapkan Seperti Lafaz "Ushalli"📝 ~ • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan kita tidak melafadzkan niat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengucapkan “Allahu Akbar” dan tidak membaca sesuatu apapun sebelumnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca “Ushalli” dan tidak ada satu riwayat shahih pun bahkan yang lemah yang dinukil dan menerangkan kepada kita bahwa beliau melakukan hal tersebut. Tidak itu saja bahkan tidak juga dinukilkan dari para sahabat dan tabi’in bahwa ada diantara mereka yang berniat dengan membaca “Ushalli”. ~ • Kemudian bila dikembalikan kepada pengertian niat secara bahasa, maka niat adalah bermakna kehendak yang ada dihati. Jadi niat itu letaknya dalam hati dan tidak diucapkan. ~ • Inilah yang difatwakan oleh para ulama. al Qadhi Abu Rabi' Sulaiman bin Umar as-Syafi’i rahimahullah mengatakan : “Mengucapkan niat dengan keras dan membaca al Fatiha...

MENGAKHIRKAN SUJUD SAMPAI IMAM MELETAKKAN DAHINYA

Gambar
[MENGAKHIRKAN SUJUD SAMPAI IMAM MELETAKKAN DAHINYA] Mutaba’atul imam yang sempurna adalah dengan mengikuti atau mengiringi gerakan imam, segera setelah imam selesai melakukan gerakannya. Misalnya ketika kita akan ruku’, maka hendaknya kita menunggu hingga imam sudah dalam keadaan ruku’ dengan sempurna, setelah itu makmum bersegera melakukan ruku’. Begitu pula gerakan-gerakan shalat lainnya, seperti sujud, duduk diantara dua sujud, bangkit dari duduk dan lain sebagainya. Hal ini telah ditegaskan dalam banyak hadits, diantaranya : Jika imam telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian, dan janganlah kalian bertakbir hingga ia bertakbir ! Jika imam telah ruku’, maka ruku’lah kalian, dan janganlah kalian ruku’ sehingga imam melakukan ruku’ ! … Dan jika ia telah sujud maka sujudlah kalian, dan janganlah kalian sujud sehingga ia bersujud !” [HR. Abu Dawud, hadits no: 603, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah] Barâ’ bin ‘Âzib mengatakan, “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaih...